Breaking News

Sasar Gen Z, Gentala Arasi BI Hadir di Muaro Jambi Mulai 3 September 2026

Jambikita.id - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi kembali menggelar Gentala Arasi (Gebyar Ekonomi Digital dan Literasi) 2026. Kegiatan Regional High Level Event (RHLE) yang rutin dilaksanakan sejak 2023 tersebut akan dipusatkan di Museum Sriwijaya Dharmakirti, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi.

Gentala Arasi 2026 dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 3 hingga 6 September 2026, dengan mengusung tema “Center of Excellence”.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Tedy Arief Budiman, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya BI untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan digital di Provinsi Jambi.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Bincang Bareng Media bersama Forum Wartawan Ekonomi Jambi di Tamarind Cafe, Jalan Soemantri Brodjonegoro, Kecamatan Sipin, Kota Jambi, Selasa (1/9/2026).

“Kami berharap rekan-rekan media dapat menyampaikan kepada masyarakat tujuan acara dan pentingnya akan kegiatan ini. Mohon doa restu, sehingga acara terlaksana dengan baik yang bertempat di Museum Sriwijaya Dharmakirti di KCBN Muarajambi,” ujar Tedy.

Menurut Tedy, Gentala Arasi tidak sekadar menjadi kegiatan tahunan BI, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital melalui penguatan sistem pembayaran serta sinergi berbagai program Bank Indonesia.

Salah satu fokus yang ingin dicapai adalah meningkatkan kesadaran dan interaksi masyarakat terhadap penggunaan sistem pembayaran digital. Generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi salah satu kelompok yang dinilai penting untuk mendapatkan edukasi mengenai transformasi digital tersebut.

“Selain itu, untuk meningkatkan kesadaran dan interaksi masyarakat mengenai sistem pembayaran secara digitalisasi. Salah satu yang paling disasar yakni kalangan generasi muda atau yang terkini disebut Gen Z,” katanya.

Tedy menegaskan, transformasi digital bukan hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia. Penguatan ekosistem digital membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat sebagai pengguna.

“Kemudian yang terakhir tentunya juga, kami ingin berkolaborasi dengan berbagai pihak. Karena ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua. Digitalisasi ini apakah hanya untuk Bank Indonesia? Tapi untuk kemaslahatan kita semua,” tegasnya.

Digitalisasi Bisa Tekan Kebocoran PAD

Tedy menjelaskan, penerapan sistem pembayaran digital juga memberikan manfaat bagi pemerintah daerah, terutama dalam meningkatkan transparansi dan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurutnya, transaksi yang dilakukan secara digital akan meninggalkan rekam data sehingga lebih mudah dicatat, dipantau dan dievaluasi. Kondisi tersebut dapat membantu mengurangi potensi kebocoran penerimaan daerah.

“Buat pemerintah daerah misalnya itu untuk meningkatkan PAD. Contoh misalnya di Jakarta dulu isu utama kebocoran anggaran PAD itu dari perparkiran. Parkir sekarang tinggal nge-tap,” jelasnya.

Hal serupa, lanjut Tedy, dapat diterapkan pada sektor pariwisata. Digitalisasi pembayaran tiket maupun transaksi di kawasan wisata dinilai mampu mempersempit celah kebocoran pendapatan.

“Pengalaman juga di sektor pariwisata. Ada dulu suatu daerah, ketika mau masuk ke objek wisata dia menggunakan tiket. Dengan digitalisasi tidak ada kebocoran uang pendapatan,” ujarnya.

Karena itu, BI Jambi ingin menjadikan Gentala Arasi sebagai momentum untuk mendorong masyarakat dan pelaku usaha semakin terbiasa menggunakan sistem pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

“Melalui Gentala Arasi, tujuan Bank Indonesia mendorong digitalisasi ekonomi dan keuangan. Tentu banyak hal yang akan kami selenggarakan di acara Gentala Arasi, setidaknya ada sosialisasi dalam berbagai bentuk,” kata Tedy.

Muaro Jambi Jadi Ruang Implementasi Digitalisasi

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Jambi, Robby Fathir Nashary, mengatakan Gentala Arasi 2026 menghadirkan sejumlah hal baru dengan mengangkat berbagai makna yang berkaitan dengan potensi daerah.

Pemilihan KCBN Muaro Jambi sebagai lokasi kegiatan dinilai sangat relevan dengan semangat digitalisasi yang diusung tahun ini.

Menurut Robby, kawasan percandian Muaro Jambi tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, tetapi juga telah mulai menerapkan digitalisasi dalam transaksi.

“Gentala Arasi tahun 2026 ini semua berkesinambungan intinya. Tidak melupakan apapun yang ada di Jambi, kita selalu mengangkat apa yang ada di Jambi,” ujar Robby.

Ia mengatakan BI Jambi berupaya mendorong seluruh potensi yang dimiliki Provinsi Jambi agar dapat berkembang secara maksimal, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital.

“Kita berupaya untuk mendorong semua potensi yang ada di Jambi semaksimal mungkin, termasuk dengan digitalisasi tadi,” katanya.

Robby juga mengajak masyarakat untuk melihat langsung penerapan transaksi digital di kawasan Museum Sriwijaya Dharmakirti dan KCBN Muaro Jambi.

“Dan nanti pada saat bapak ibu datang ke museum juga, itu kalau saya kemarin ke museum itu saya happy. Karena saya berasa benar-benar ada di daerah yang benar-benar baru,” ungkapnya.

Ia menyebut, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi dapat berjalan berdampingan dengan pengembangan kawasan wisata berbasis sejarah dan budaya.

“Karena semua transaksi pada saat masuk ke dalam kita itu semuanya benar-benar digital. Jadi bagaimana ekonomi kita bisa berkembang ke depan,” ujarnya.

Dorong Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat

Penyelenggaraan Gentala Arasi 2026 di kawasan Muaro Jambi juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antara pengembangan pariwisata budaya dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kehadiran kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha, pedagang, pelaku pariwisata serta masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Penerapan sistem pembayaran digital menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Transaksi non-tunai dinilai memberikan kemudahan, kecepatan dan efisiensi bagi masyarakat sekaligus menciptakan pencatatan transaksi yang lebih transparan.

Rangkaian Gentala Arasi 2026 akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perbankan, pelaku pariwisata, pelaku usaha hingga komunitas lokal.

Melalui kolaborasi tersebut, BI Jambi ingin memastikan transformasi digital tidak berhenti pada penggunaan teknologi pembayaran, tetapi dapat memberikan dampak nyata terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah mengubah pola transaksi masyarakat. Transaksi tunai secara bertahap mulai bergeser menuju pembayaran non-tunai melalui berbagai kanal digital.

“Gentala Arasi menjadi event tahunan BI Jambi dengan tema digitalisasi pembayaran,” kata Tedy.

Menurutnya, penguatan ekosistem pembayaran digital menjadi semakin penting untuk menciptakan transaksi yang cepat, mudah, aman dan tercatat.

Dengan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital, aktivitas ekonomi di Jambi diharapkan menjadi lebih efisien. Di sisi pemerintah daerah, sistem pembayaran digital juga dapat membantu mengoptimalkan penerimaan sekaligus mengurangi potensi kebocoran.

Pada akhirnya, Gentala Arasi 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan Bank Indonesia, tetapi juga menjadi momentum bersama untuk memperkuat transformasi ekonomi digital di Provinsi Jambi.

Transformasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan kekayaan sejarah dan budaya Jambi dengan inovasi teknologi, sehingga sektor pariwisata, UMKM, perdagangan dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat dapat tumbuh secara berkelanjutan. (Bjs/*)

0 Komentar

© Copyright 2022 - Jambi Kita